Mengapa Kepemilikan Tanah Absentee Masih Membentuk Perekonomian Global

13

Kepemilikan tanpa kehadiran menjelaskan pengaturan khusus: seseorang memegang hak atas tanah, mengumpulkan pendapatan dari tanah tersebut, namun tidak tinggal di sana atau bertani. Label itu sendiri membawa stigma sosial yang berat. Ini menyiratkan bahwa pemiliknya tidak peduli, tidak tertarik, atau tidak peduli dengan orang yang mengerjakan tanah tersebut. Penilaian tersebut dimasukkan ke dalam istilah tersebut, meskipun definisi literalnya hanyalah deskripsi jarak fisik antara pemilik dan properti.

Dinamika ini telah memicu kemarahan politik selama berabad-abad. Di Perancis pra-Revolusi, para kritikus menargetkan para bangsawan istana yang memiliki perkebunan di pedesaan tetapi menghabiskan waktu mereka di Versailles. Mereka memperoleh kekayaan dari kerja pertanian tanpa berpartisipasi di dalamnya. Demikian pula, perdebatan pada abad ke-19 di Irlandia berpusat pada tuan tanah Inggris yang memperoleh keuntungan dari pertanian penyewa ketika mereka tinggal di London atau kota-kota lain yang jauh. Contoh-contoh sejarah ini menjadikan kepemilikan absensi sebagai alat eksploitasi dan bukan sekadar investasi.

Isu ini masih aktif hingga saat ini, khususnya di negara-negara berkembang. Program reformasi pertanahan sering kali menargetkan kepemilikan yang tidak ada untuk mendistribusikan kembali sumber daya. Para pengambil kebijakan berargumentasi bahwa ketika pemilik modal secara fisik dan sosial dipindahkan dari lahannya, maka insentif untuk pengelolaan berkelanjutan atau perlakuan adil terhadap pekerja akan berkurang. Ketegangan inti terletak antara hak kepemilikan dan kontrol lokal.

Apa Perbedaan Kepemilikan Absentee dengan Penatalayanan Lokal?

Perbedaannya sederhana namun berdampak. Pemilik lokal biasanya mempunyai kepentingan langsung dalam kesehatan tanah, hubungan penyewa, dan stabilitas komunitas. Pemilik yang tidak hadir mengelola melalui agen atau kontrak sewa. Minat utama mereka adalah hasil finansial.

Hal ini menimbulkan potensi ketidaksesuaian. Jika tujuannya adalah memaksimalkan sewa jangka pendek, degradasi lahan dalam jangka panjang mungkin tidak diperhatikan atau tidak diatasi. Kritikus menyebut hal ini sebagai akar dari konotasi yang menghina. Pemiliknya tidak memiliki “kepentingan pribadi”, yang menyebabkan dianggap diabaikan atau dieksploitasi.

Mengapa Reformasi Pertanahan Menargetkan Kepemilikan Absentee?

Negara-negara berkembang sering melakukan intervensi untuk memutuskan hubungan ini. Logikanya adalah bahwa tanah yang dikuasai oleh lembaga non-residen dapat menghambat pembangunan daerah. Upaya reformasi bertujuan untuk mengalihkan kepemilikan atau kendali kepada penduduk yang bergantung pada tanah untuk mata pencahariannya.

Pertukarannya rumit. Membatasi kepemilikan yang tidak ada dapat melindungi penyewa lokal dan mendorong penggunaan lahan yang lebih baik. Namun, hal ini juga dapat menghambat investasi modal dari luar yang dapat memodernisasi pertanian atau infrastruktur. Menyeimbangkan keadilan sosial dengan efisiensi ekonomi masih merupakan perhitungan yang sulit bagi para pembuat kebijakan.

Dimana Masalah Ini Paling Menonjol Saat Ini?

Meskipun istilah ini memiliki pengaruh historis di Perancis dan Irlandia, relevansinya saat ini paling kuat dalam perdebatan reformasi pertanahan global. Di banyak daerah berkembang, pertanyaannya bukan hanya soal siapa pemilik lahan, tapi siapa yang mendapat manfaat dari produktivitasnya. Ketika kepemilikannya jauh, aliran modal sering kali bergerak keluar dari perekonomian lokal, bukan beredar di dalamnya.

Apakah kepemilikan absensi pada dasarnya buruk bergantung pada konteksnya. Ini bisa menjadi sarana netral untuk investasi. Namun jika hal ini terjadi bersamaan dengan ketidakseimbangan kekuasaan dan kurangnya akuntabilitas lokal, maka hal ini akan menjadi sumber gesekan sosial. Ketegangan yang terus terjadi mengingatkan kita bahwa tanah bukan sekedar aset. Ini adalah tempat kekuasaan, identitas, dan kelangsungan hidup.